Dalam hidup, manusia mempunyai banyak nilai atau norma yang mengikat hidupnya itu. Nilai-nilai itu terutama mengurusi tentang baik dan buruk, setidaknya yang mana yang lebih baik daripada yang lainnya, atau secara tanpa sadar telah meletakkan hal-hal tertentu menjadi lebih baik daripada yang lainnya, sehingga hal-hal yang secara implisit terkategorikan sebagai "lebih baik" itu menjadi pilihan utama di antara pilihan-pilihan yang lainnya.
Nilai-nilai berkembang ketika manusia mulai berhubungan dengan manusia lainnya, sehingga nilai-nilai dapat ditelusuri hingga awal mula peradaban manusia. Sejak dari nilai-nilai yang primitif, yang masih hidup hingga hari ini ataupun yang telah punah, nilai-nilai yang baru "ditemukan" kemudian, atau nilai-nilai yang muncul seiring kemajuan peradaban itu sendiri, juga nilai-nilai yang merupakan perkembangan atau perubahan dari nilai-nilai yang terdahulu.
Manusia menurunkan nilai-nilai itu dari satu generasi ke generasi yang lainnya baik secara sadar ataupun tidak sadar, melalui berbagai cara dan media, dengan perantaraan berbagai hal, dengan cara yang sederhana ataupun cara yang sangat rumit. Nilai yang paling awal diturunkan kepada satu manusia, kurang lebih, adalah nilai yang menyangkut kehidupan seorang bayi. Kencing dan berak di celana, nangis, dan nakal adalah merupakan suatu "kesalahan", adalah terkategorikan sebagai "buruk".
Semakin tinggi peradaban manusia, juga ketika seorang anak manusia telah mencapai usia matangnya, semakin rumit nilai-nilai yang dibebankan kepadanya. Sepanjang garis peradaban, nilai-nilai selalu berubah sesuai dengan tuntutan zamannya. Ia akan berubah ketika zaman membuat nilai-nilai yang terdahulu tidak mungkin lagi untuk tetap digunakan. Contohnya adalah, dalam nama kemajuan zaman tersebut, demi kepraktisan dan kesetaraan, perbedaan penggunaan bahasa terhadap tingkatan-tingkatan kemasyarakatan tidak lagi digunakan. Pergeseran arti gender dari zaman yang satu ke zaman yang lain, hubungan manusia dengan alam, dan lain-lain.
Maka bagaimanapun juga, nilai-nilai adalah buatan manusia, adalah produk kolektif secara sadar atau tidak sadar dari peradaban manusia, adalah pembatas-pembatas koridor yang "diciptakan" demi kehidupan suatu zaman. Yang mana karena ia bersifat mengabdikan diri kepada zaman, maka nilai-nilai itu pun mengabdikan diri kepada penguasa dari zamannya. Oleh karena itulah kita mengenal suatu nilai yang mengatakan bahwa memberontak dan menumbangkan kekuasaan adalah "buruk" atau setidaknya "tidak lebih baik" daripada hal yang lainnya.
Tetapi selalu akan tiba waktunya ketika suatu zaman tidak dapat lagi menopang dirinya sendiri, suatu pembusukan zaman seperti yang pernah terjadi pada zaman raja-raja dan segala zaman lainnya. Pembusukan itu diikuti juga dengan pembusukan nilai-nilai yang berlaku, sehingga kini kita dapat membaca sejarah tentang pemenggalan kepala Louis XIV dalam nama nilai-nilai yang baru yang telah hidup dari bangkai nilai-nilai lama, di mana raja adalah perwakilan dari tuhan.
Pembusukan nilai yang terpicu oleh pembusukan zaman, bersamaan dengan faktor-faktor lainnya, akan dorong mendorong secara dialektika untuk membuat pembusukan tersebut bagaimanapun juga akan berakhir dengan kematian dari zaman yang lama dan tumbuhnya zaman yang baru. Pembusukan nilai-nilai yang mengikuti pembusukan zaman raja-raja menumbuhkan tunas-tunas nilai-nilai baru, nilai-nilai pemberontakan, yang menghidupkan slogan kemerdekaan-kesetaraan-persaudaraan. Dari sana tunas-tunas segar itu pada akhirnya menjatuhkan Louis XIV dari kursi perwakilannya terhadap tuhan, membuatnya tersungkur menyembah rakyat, dan menjatuhkan pisau guillotine di atas lehernya.
Konsekuensinya adalah akan selalu terjadi tarik-ulur dan bahkan penindasan-penindasan terhadap nilai-nilai baru yang bertumbuh sebagai penanda zaman yang telah membusuk. Tentu saja penguasa tidak menginginkan dirinya bernasib sama seperti Louis.
Kekakuan dan absolutisme zaman raja-raja menghidupkan nilai-nilai parlementer yang membuat rakyat dapat "ikut menentukan" jalannya kehidupan. Tetapi seperti pada zaman manapun, penguasa yang berasal dari kelas yang berbeda akan selalu menjadi penindas dari rakyatnya dalam nama kekekalan kekuasaan tersebut. Nilai-nilai parlementer tinggal menjadi ilusi yang meninabobokan manusia dan membuatnya tenang untuk sementara, memberikannya mekanisme untuk mengubah-ubah penguasa dan menentukan komposisi yang diinginkannya sendiri. Tetapi ilusi tetaplah ilusi karena penguasa yang manapun dengan komposisi yang manapun tetaplah mereka yang berasal dari kaum penguasa, kaum empunya harta dan senjata.
Pembusukan telah dimulai sejak suatu zaman tampil ke muka sebagai zaman yang berjaya. Maka di zaman ini di mana kita hidup, ketika peradaban telah sedemikian rumitnya, dan mekanisme ilusi telah berjalan selama berabad-abad, kini pembusukan itu menjadi semakin kental dan membuat zaman semakin mendekati ajalnya. Manusia semakin menyadari ilusi yang dihadapinya, dan nilai-nilai baru pun bertumbuh.
Bahwa mekanisme parlemen adalah suatu kebohongan, bahwa tidak ada harapan yang dapat diberikan olehnya, bahwa oleh karena itu kekuasaan harus diakhiri justru tidak dengan mengikuti mekanisme yang telah diberikan. Menjadi semakin nyata bahwa pemberontakan adalah legal walaupun jika ia ditentang oleh segala rupa hukum dan undang-undang yang manapun, bahwa bukan saja pergantian penguasa yang harus diakhiri, melainkan zaman ini telah semakin membusuk dan harus diantarkan kepada ajalnya.
Maka biarlah nilai-nilai itu bertumbuh, biarlah mereka mendapatkan jati dirinya melalui rangkaian kata-kata dan menemukan bentuk materialnya pada kepalan tangan dan teriakan-teriakan rakyat.
Karena ajal telah menanti pembusukan ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar