Rabu, 03 Maret 2010

Kesadaran Kelas

Malam ini sebagian orang tengah tidur dalam kenyamanan setelah hari Sabtu dan Minggu sebelumnya menikmati apa yang dapat dinikmati. Sabtu dan Minggu adalah waktunya untuk bersenang-senang, setelah satu minggu sebelumnya disibukkan oleh aktivitas sehari-hari, maka sesudah dua hari itu, malam ini mereka beristirahat dengan tenang di kamarnya masing-masing, di atas kasur dan bantal yang empuk, dalam udara yang sejuk, dan tanpa nyamuk. Hidup itu indah, katanya.

Sementara di sana ada orang yang tengah menjaga warung justru bersama nyamuk-nyamuk. Autan atau Sari Puspa tidak ada yang mempan, obat nyamuk bakar tak berdaya sedikitpun. Ada juga pemulung yang berkeliaran dari tempat sampah yang satu ke tempat sampah yang lain, bersepatu bolong, kaki koreng, dan baju rombeng. Di kampung-kampung kumuh di pojok Jakarta orang berdesak-desakkan di rumah-rumah kardus seakan bertumpuk-tumpukan, dengan setia menghirup bau tinja dan kencing dari selokan, dengan tikus-tikusnya yang lebih besar dari anak kucing. Hari ini mereka ada di sini, bulan depan atau taun depan mungkin mereka ada di tempat lain, karena digusur. Beberapa di antaranya masih melek bersama belek walaupun badannya telentang, pikiran terus-menerus berkelana, karena hari Jumat kemarin baru di PHK dari pabrik. Senin ini tidak ada pekerjaan, hari Selasa beras habis, hari Kamis uang ikut lenyap, Minggu depan tidak ada lagi yang bisa dimakan.

Kemiskinan ada di mana-mana. Kemiskinan ada di sela-sela bangunan-bangunan besar, rumah-rumah mewah, di belakang Mall, di depan istana, di samping gereja, di dalam masjid, di kolong jembatan, di desa-desa, di kampung nelayan, di atas jermal, di rumah pelacuran. Kemiskinan ada banyak sekali, jumlahnya lebih banyak daripada orang-orang kaya, walaupun kekayaan yang dimiliki dunia ini cukup banyak untuk menghidupi semuanya dengan layak.

Oleh karena itu ini bukanlah tentang ketimpangan sosial, kesenjangan sosial, atau apapun namanya. Ini bukan sekadar tentang perbedaan yang terlalu mencolok antara si kaya dan si miskin, ini bukan tentang kemiskinan yang terlampau parah atau kekayaan yang terlampau tinggi. Kemiskinan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tidak memiliki asal-muasal, dan ada begitu saja. Kemiskinan dan kekayaan bukanlah dua hal yang berdiri sendiri-sendiri dan tidak ada hubungan antara keduanya, melainkan justru terdapat hubungan yang sangat erat antara keduanya, karena kemiskinan terlahir sejak ada orang-orang yang harus dimiskinkan demi kekayaan orang-orang lainnya. Kemiskinan adalah hasil dari kekayaan, kemiskinan adalah tumbal untuk kekayaan. Kemelaratan ada di dunia karena harus menopang kekayaan.

Sekadar berderma, bersedekah, dan berbelas kasihan tidak akan pernah dapat mengatasi kemiskinan ini. Pun juga kepedulian sosial, kepekaan sosial, dan kawan-kawannya bukanlah apa yang dibutuhkan oleh dunia ini. Kepedulian sosial tinggal berarti belas kasihan dari sang empunya terhadap yang tidak punya, kepedulian sosial menysaratkan adanya perbedaan antara yang peduli dengan yang dipedulikan, logika kepedulian sosial adalah logika status-quo yang justru ingin tetap melestarikan dan meneruskan keadaan di mana kemiskinan memberi makan dan membangun keagungan kekayaan.

Kepedulian dari si kaya terhadap si miskin adalah bualan yang manis dan indah dilihat tetapi penuh racun dan kelicikan di baliknya. Kepedulian si kaya hanyalah untuk mengulur waktu kematian si miskin, agar ia dapat tetap memeras tenaganya. Aku tak mengatakan niat semacam itu selalu dan pasti ada dalam setiap bentuk tindakan "peduli", tetapi itulah sifatnya, itulah dasarnya, itulah maknanya. Bahkan setulus apapun suatu kepedulian, ia tinggalah menjadi omong kosong ketika dihadapkan pada keagungan dunia yang dibangun atas dasar tetes darah dan tulang-belulang kemiskinan.

***

Yang dibutuhkan adalah kesadaran kelas dari kemiskinan itu sendiri. Kesadaran bahwa sistem ini memang terbangun atas dasar dua kelas yang saling berlawanan dan tidak terdamaikan, bahwa hidup kelas yang satu tergantung pada eksploitasi dan perbudakan terhadap kelas yang lain. Segala omong kosong yang hanya manis untuk dilihat dan didengar, walaupun penuh haru dan tampak begitu suci, harus dimengerti dengan logika dan rasio. Perdamaian antar kedua kelas adalah omong kosong yang lain lagi, sehingga setiap hari menjadi perjuangan dan perlawanan si tertindas terhadap sang penindas, sejak dari perjuangan ekonomis jangka pendek, hingga kelak perjuangan yang akan menumbangkan kekuasaan sang penindas, mengakhiri hidupnya, dan menghapuskan kelasnya.

Penghapusan kelas adalah satu-satunya jalan menuju keadilan, di mana orang tidak mengeksploitasi sesamanya demi keagungan hidup sehingga menghasilkan kemiskinan. Masyarakat tanpa kelas adalah satu-satunya bentuk di mana kepedulian sosial dan kepekaan sosial tinggal menjadi kata-kata purba dari zaman sebelumnya.

Related Posts :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar