Rabu, 03 Maret 2010

BERHENTILAH MENJADI DUNGU

Aku selalu memandang sinis terhadap orang-orang yang berdemonstrasi menentang penjagalan yang dilakukan Israel di Timur Tengah. Terlebih lagi terhadap orang-orang yang berkata siap untuk melakukan jihad menghantar nyawa ke sana.

Tetapi bukan berarti aku membela Israel. Kukatakan padamu, menurutku penguasa Israel adalah memang sungguh bajingan penjagal manusia. Tetapi alasan yang diberikan oleh sebagian besar para pendmonstrasi itu, bagaimanapun, kuanggap konyol.

Dengan dungu dan bebalnya mereka menentang Israel dan apa yang dilakukannya atas dasar keislaman mereka. Manusia-manusia fanatik yang masih hidup di zaman kegelapan itu meletakkan agama sebagai dasar dari kehidupannya, agama sebagai titik sentral dalam memandang dunia, dan agama sebagai tolok ukurnya terhadap segala sesuatu.

Walaupun sesungguhnya hal yang sangat goblok itu wajar adanya bagi mereka yang memang dungu sekaligus bebal. Karena bukan hanya dalam masalah Israel, tetapi dalam segala hal mereka memang memiliki pandangan yang sangat sempit terhadap dunia dan kehidupan. Karena kacamata agama yang dikenakannya, karena kerangkeng agama yang membuat pikiran mereka menjadi kerdil. Dalam lain kata, agama telah membuat mereka goblok. Dan dengan demikian, tindakan mereka pun akan menjadi goblok.

Agama bukanlah sesuatu yang universal, dan agama pun akan berbeda-beda dari manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Maka ketika agama yang digunakan untuk menilai dan dijadikan dasar, hasilnya adalah suatu kekacau-balauan. Suatu kekacau-balauan yang tampak sangat dungu.

Jika seseorang membela orang-orang dengan agama yang sama dengannya di Timur Tengah (dalam hal ini Islam), yang saat ini tengah dibantai oleh Israel, dan ia pergi berjihad ke sana untuk membantai balik orang Israel yang kafir itu; maka seharusnya suatu waktu dapat-dapat saja terjadi seorang Kristen membantai dirinya karena orang itu beragama Kristen, sama dengan agama yang pada umumnya dianut oleh orang Papua - yang mana telah dibantai oleh orang-orang Islam yang menguasai negara ini.

Sedangkan ada pula orang Israel yang menentang pembantaian yang dilakukan oleh penguasa negaranya. Beberapa hari lalu kulihat di TV, Partai Komunis Israel, lengkap dengan atribut berwarna merah dan lambang palu arit berwarna kuning, berdemonstrasi menentang perang. Entah apa yang berkecamuk di kepalamu ketika dua setan-iblis yang begitu kau benci, Israel dan Komunis, tiba-tiba berpendapat sama denganmu.

Sungguh akan menjadi amburadul jadinya.

Membela orang-orang yang beragama sama pada suatu waktu, sementara di lain waktu TKW dari Indonesia pulang dalam keadaan bunting atau bahkan tinggal mayat karena diperkosa oleh orang Arab yang ternyata juga beragama sama. Maka mereka akan tinggal diam, menutup mulutnya erat-erat, dan kalau perlu jangan sampai ada banyak yang tau soal ini. Toh agama mereka yang memperkosa dan membunuh, sama dengan agama kita.

Jika, seandainya saja, Israel adalah suatu negara muslim, dan sementara Lebanon adalah negara yang berisi kaum Zionis Yahudi yang kau benci, maka apakah - ketika menyaksikan pembantaian seperti yang sekarang terjadi - kau akan tetap berkoar-koar seperti sekarang - atau kah kau akan tutup mulut dan sekaligus berteriak "Allahuakbar!" di dalam hati??

Bagaimanapun juga, akan menjadi konyol sekaligus tolol jika agama yang dijadikan dasar penilaian. Dan hal itu sungguh sama sekali tidak lebih baik daripada orang fasis yang meletakkan ras sebagai dasar untuk menilai dan memandang dunia. Agama dalam hal ini dapat menjadi dan mungkin tengah menjadi fasis-fasis model baru, yang semakin lama semakin tidak perduli lagi terhadap hal yang lainnya, dan hanya meletakkan agama sebagai pemersatu atau pembeda dalam memandang dunia dan kehidupan.

Dan apapun yang menjadi bahan bacotan para ahli-ahli agama, fasis adalah tetap fasis, walaupun dasarnya adalah agama.

Apa yang dapat kutawarkan sebagai alternatif adalah menggunakan kemanusiaan untuk menggantikan agama. Kemanusiaan akan selalu sama, baik di Arab sana, di Israel, di Papua, di Jakarta, di negara-negara bule, di Afrika, di manapun manusia adalah manusia. Apapun rasnya, apapun agamanya, kebudayaannya, penampilan fisiknya, kepercayaannya, manusia adalah manusia. Walaupun kemanusiaan belum dapat sepenuhnya ditegakkan akibat dari sistem saat ini yang meletakkan kemanusiaan berada entah di nomor urut keberapa, tetapi kita tetap dapat melihat dunia menggunakan kemanusiaan. Dan aku dapat menjamin bahwa kau tidak akan lagi tampak begitu dungu seperti ketika kau menggunakan agama.

Apapun agama seseorang, apapun kepercayaan dan rasnya, pembantaian seperti yang dilakukan oleh Israel saat ini tidak dapat dibenarkan. Dan hanya dibutuhkan kemanusiaan untuk sampai pada kesimpulan itu, kau tidak perlu membawa-bawa agamamu, rasmu, kebudayaanmu, segala tetek-bengek dari dirimu. Hanya kemanusiaanmu. Hal-hal lainnya akan membuatmu justru tampak kerdil, biadab, sekaligus dungu. Dungu sedungu-dungunya.

***

Hal lainnya adalah, walaupun memang tidak seharusnya berdiam diri saja ketika melihat pembantaian manusia atas manusia yang dilakukan oleh Israel, walaupun memang sewajarnya terjadi aksi-aksi demonstrasi menentang tindakan Israel seperti yang dilakukan oleh seluruh dunia (walaupun juga akan menjadi benar dan tampak lebih rasional serta cerdas juga tidak dungu - jika tidak dilakukan atas dasar agama); ada sesuatu yang terlewatkan oleh orang-orang Indonesia.

Kita mengutuki setiap apapun yang dilakukan oleh Israel, lebih tepatnya adalah kita mengutuki Israel dan hal-hal yang berbau Yahudi di manapun dan kapanpun kesempatan untuk itu ada, seseorang menggunakan kalung berliontin lambang bintang david pun menjadi perkara, apapun yang berbau Israel dan Yahudi dapat dalam sekejap menjadi sumber permasalahan di sini.

Segala yang berbau Israel dan Yahudi serta Zionis menjadi haram, hina, menjijikan, salah, najis, dan segala yang buruk bagimu. Hampir sama seperti ketika Komunisme begitu setan-iblis bagimu. Sementara kau tidak pernah tau dan mau tau apa perbedaan dari Israel, Yahudi, dan Zionisme itu sendiri.

Tetapi, kembali ke apa yang sebelumnya hendak kukatakan, ada yang terlewatkan oleh orang-orang Indonesia. Kita lupa mengutuki kebiadaban yang kita lakukan sendiri. Sementara kita begitu berkonsentrasi dan begitu bernafsu untuk menyerahkan nyawa dalam perang Jihad melawan setan-setan Israel, kita telah melupakan bahwa penguasa negara kita sendiri pun selama berpuluh tahun hingga hari ini tengah memperanjing dan disertai berkali-kali pembantaian terhadap bangsa Papua.

Kita sendiripun adalah bangsa biadab yang membiarkan atau bahkan mendukung perampokan dan pembantaian yang dilakukan oleh negeri ini bersama para tentaranya, dan terutama dilakukan untuk melanggengkan perampokan yang dilakukan oleh Freeport.

***

Satu hal yang menjadi kekhawatiranku adalah, kau akan sekali lagi terjerumus dalam lautan kebebalan dan kedunguan, ketika kau mengatakan bahwa Freeport pun Yahudi, dan oleh karena itu mereka bertindak bajingan, dan sepantasnyalah Yahudi Freeport itu dikutuki. Jika kau berpikiran seperti itu, maka jadilah dirimu tampak dungu dan bebal.

Maka aku bertanya kepadamu yang berpikiran seperti itu, siapakah orang-orang penguasa negeri ini yang membiarkan Freeport merampoki Papua hingga hari ini, bukankah orang-orang yang memiliki agama yang sama denganmu, bukankah mereka juga pergi ke Mekkah sana untuk mencantumkan label "haji" di depan namanya? Tetapi mereka dapat saja bertingkah anjing dan keparat. Persis sama seperti keanjingan dan kekeparatan yang dapat dilakukan oleh Israel.

Dengan demikian kau akan berputar-putar dalam lingkaran penuh kedunguan, bolak-balik mengurusi Yahudi dan Israel dan Zionisme, meletakkan agama sebagai titik poros kebebalanmu, berproses menjadi fasis-fasis bangsat sejati, serta sama sekali tidak sanggup dan mau untuk melihat kenyataan dan kebenaran. Bahwa ini bukanlah tentang apa agama dia dan apa agamamu. Ini adalah tentang kemanusiaan, bahwa baik orang Papua atau Lebanon, orang Amerika atau Israel, dan apapun agamanya, adalah tetap manusia. Titik.

Beranikan dirimu. Berhentilah menjadi DUNGU!

Related Posts :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar