Rabu, 03 Maret 2010

Jadilah Murtad

Agama, walaupun tidak seluruhnya, benar-benar menggobloki umat manusia. Menggobloki dalam segala hal dan semakin goblok sang manusia, maka semakin ia tertungging-tungging pada agama - yang mana akan semakin dan semakin menggoblokinya lagi.

Kukatakan tidak seluruhnya, karena memang bahkan dalam suatu agama pun, tidak secara keseluruhan agama itu bersifat menggobloki. Dari aliran yang satu ke aliran yang lain memiliki perbedaannya masing-masing, bahkan antara pemuka yang satu dengan pemuka yang lain pun punya tingkat menggobloki yang berbeda-beda.

Yang sulit adalah ketika pengetahuan telah memiliki cap sebagai salah satu sumber dosa berat. Maka sejak saat itu orang akan terseret-seret dalam ketakutannya, menjadi goblok dan sedemikian setia kepada kegoblokannya itu sehingga ia merelakan diri untuk menjadi semakin goblok dari hari ke hari.

Ada yang mendalilkan bahwa mencoba untuk mempelajari agama sebagai dan melalui sudut pandang sejarah adalah suatu dosa - dengan dasar berbagai macam alasan yang bolak-balik bersumber dari buku-buku tua nan usang bau ompol bernama kitab suci. Pengetahuan yang bersarang di dalam kepala seseorang lantas tinggal menjadi monopoli sang agama, dan dengan demikian kebenaran baginya pun sebatas pada batas-batas yang ditentukan oleh sang agama. Hasilnya adalah manusia-manusia yang KERDIL, PENAKUT, GOBLOK, TOLOL, DUNGU, dan sedemikian bangga - dengan disertai ketakutan - atas gelar-gelarnya itu sehingga mereka berlomba-lomba untuk semakin dan semakin KERDIL serta DUNGU. Sejauh yang mereka mampu.

Mereka mengaduk-aduk antara iman dengan sejarah, iman dengan ilmu pengetahuan, iman dengan politik, iman dengan hukum, bahkan mereka gunakan iman mereka sendiri dalam melihat manusia lain dengan iman yang berbeda. Menjadi sebuah pertunjukkan tragikomedi yang berputar-putar dengan cerita masyarakat dengan KEKERDILAN dan KEDUNGUAN kolektif.

Pada seseorang telah kukatakan bahwa sejarah adalah sejarah dan iman adalah iman. Jangan pernah kau melihat sejarah sebagai suatu objek untuk imanmu, dan sebaliknya kau boleh memegang teguh imanmu, tapi jangan pernah kau mengklaim kebenaran sejarah dengan dasar imanmu itu.

Tetapi siapalah aku dengan kata-kataku itu, dibandingkan dengan orang yang telah berhasil mencuci otaknya, mengisinya dengan kebohongan, menggoblokinya, mempertololnya, memperkosa logikanya, memberangus nalarnya, dan memasung keberanian berpikirnya - hingga ia menjadi manusia yang KERDIL lagi DUNGU.

Ia tetap membaca sejarah dengan imannya, dan tetap menganggap imannya adalah sejarah. Ia pun melihat ilmu pengetahuan melalui imannya, dan ia anggap imannya adalah ilmu pengetahuan. Kemudian ia mencari-cari pembenaran bagi KEDUNGUANNYA itu dengan cara yang KERDIL, kemudian ia bela pendiriannya dengan menyelipkan iman ke manapun ia bisa menyelip dengan cara mengambil bocat-bacot dari kitab-kitab omong kosongnya. Setelah itu ia kebingungan sendiri karena logika yang mampet dan nalar yang terpasung, maka ia menutup mata dan menjadi tuli, seraya berdoa meminta ampun karena telah mendengar kata-kata setan bin iblis, terakhir - ia menjadi bangga karena telah sekali lagi berhasil menjaga dirinya supaya tidak keluar dari lingkaran KEKERDILAN dan KEDUNGUAN.

Tinggalkan agama, jadilah murtad dan pendosa, maka matamu kan terbuka.

Kesadaran Kelas

Malam ini sebagian orang tengah tidur dalam kenyamanan setelah hari Sabtu dan Minggu sebelumnya menikmati apa yang dapat dinikmati. Sabtu dan Minggu adalah waktunya untuk bersenang-senang, setelah satu minggu sebelumnya disibukkan oleh aktivitas sehari-hari, maka sesudah dua hari itu, malam ini mereka beristirahat dengan tenang di kamarnya masing-masing, di atas kasur dan bantal yang empuk, dalam udara yang sejuk, dan tanpa nyamuk. Hidup itu indah, katanya.

Sementara di sana ada orang yang tengah menjaga warung justru bersama nyamuk-nyamuk. Autan atau Sari Puspa tidak ada yang mempan, obat nyamuk bakar tak berdaya sedikitpun. Ada juga pemulung yang berkeliaran dari tempat sampah yang satu ke tempat sampah yang lain, bersepatu bolong, kaki koreng, dan baju rombeng. Di kampung-kampung kumuh di pojok Jakarta orang berdesak-desakkan di rumah-rumah kardus seakan bertumpuk-tumpukan, dengan setia menghirup bau tinja dan kencing dari selokan, dengan tikus-tikusnya yang lebih besar dari anak kucing. Hari ini mereka ada di sini, bulan depan atau taun depan mungkin mereka ada di tempat lain, karena digusur. Beberapa di antaranya masih melek bersama belek walaupun badannya telentang, pikiran terus-menerus berkelana, karena hari Jumat kemarin baru di PHK dari pabrik. Senin ini tidak ada pekerjaan, hari Selasa beras habis, hari Kamis uang ikut lenyap, Minggu depan tidak ada lagi yang bisa dimakan.

Kemiskinan ada di mana-mana. Kemiskinan ada di sela-sela bangunan-bangunan besar, rumah-rumah mewah, di belakang Mall, di depan istana, di samping gereja, di dalam masjid, di kolong jembatan, di desa-desa, di kampung nelayan, di atas jermal, di rumah pelacuran. Kemiskinan ada banyak sekali, jumlahnya lebih banyak daripada orang-orang kaya, walaupun kekayaan yang dimiliki dunia ini cukup banyak untuk menghidupi semuanya dengan layak.

Oleh karena itu ini bukanlah tentang ketimpangan sosial, kesenjangan sosial, atau apapun namanya. Ini bukan sekadar tentang perbedaan yang terlalu mencolok antara si kaya dan si miskin, ini bukan tentang kemiskinan yang terlampau parah atau kekayaan yang terlampau tinggi. Kemiskinan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, tidak memiliki asal-muasal, dan ada begitu saja. Kemiskinan dan kekayaan bukanlah dua hal yang berdiri sendiri-sendiri dan tidak ada hubungan antara keduanya, melainkan justru terdapat hubungan yang sangat erat antara keduanya, karena kemiskinan terlahir sejak ada orang-orang yang harus dimiskinkan demi kekayaan orang-orang lainnya. Kemiskinan adalah hasil dari kekayaan, kemiskinan adalah tumbal untuk kekayaan. Kemelaratan ada di dunia karena harus menopang kekayaan.

Sekadar berderma, bersedekah, dan berbelas kasihan tidak akan pernah dapat mengatasi kemiskinan ini. Pun juga kepedulian sosial, kepekaan sosial, dan kawan-kawannya bukanlah apa yang dibutuhkan oleh dunia ini. Kepedulian sosial tinggal berarti belas kasihan dari sang empunya terhadap yang tidak punya, kepedulian sosial menysaratkan adanya perbedaan antara yang peduli dengan yang dipedulikan, logika kepedulian sosial adalah logika status-quo yang justru ingin tetap melestarikan dan meneruskan keadaan di mana kemiskinan memberi makan dan membangun keagungan kekayaan.

Kepedulian dari si kaya terhadap si miskin adalah bualan yang manis dan indah dilihat tetapi penuh racun dan kelicikan di baliknya. Kepedulian si kaya hanyalah untuk mengulur waktu kematian si miskin, agar ia dapat tetap memeras tenaganya. Aku tak mengatakan niat semacam itu selalu dan pasti ada dalam setiap bentuk tindakan "peduli", tetapi itulah sifatnya, itulah dasarnya, itulah maknanya. Bahkan setulus apapun suatu kepedulian, ia tinggalah menjadi omong kosong ketika dihadapkan pada keagungan dunia yang dibangun atas dasar tetes darah dan tulang-belulang kemiskinan.

***

Yang dibutuhkan adalah kesadaran kelas dari kemiskinan itu sendiri. Kesadaran bahwa sistem ini memang terbangun atas dasar dua kelas yang saling berlawanan dan tidak terdamaikan, bahwa hidup kelas yang satu tergantung pada eksploitasi dan perbudakan terhadap kelas yang lain. Segala omong kosong yang hanya manis untuk dilihat dan didengar, walaupun penuh haru dan tampak begitu suci, harus dimengerti dengan logika dan rasio. Perdamaian antar kedua kelas adalah omong kosong yang lain lagi, sehingga setiap hari menjadi perjuangan dan perlawanan si tertindas terhadap sang penindas, sejak dari perjuangan ekonomis jangka pendek, hingga kelak perjuangan yang akan menumbangkan kekuasaan sang penindas, mengakhiri hidupnya, dan menghapuskan kelasnya.

Penghapusan kelas adalah satu-satunya jalan menuju keadilan, di mana orang tidak mengeksploitasi sesamanya demi keagungan hidup sehingga menghasilkan kemiskinan. Masyarakat tanpa kelas adalah satu-satunya bentuk di mana kepedulian sosial dan kepekaan sosial tinggal menjadi kata-kata purba dari zaman sebelumnya.

Pembusukan Zaman

Dalam hidup, manusia mempunyai banyak nilai atau norma yang mengikat hidupnya itu. Nilai-nilai itu terutama mengurusi tentang baik dan buruk, setidaknya yang mana yang lebih baik daripada yang lainnya, atau secara tanpa sadar telah meletakkan hal-hal tertentu menjadi lebih baik daripada yang lainnya, sehingga hal-hal yang secara implisit terkategorikan sebagai "lebih baik" itu menjadi pilihan utama di antara pilihan-pilihan yang lainnya.

Nilai-nilai berkembang ketika manusia mulai berhubungan dengan manusia lainnya, sehingga nilai-nilai dapat ditelusuri hingga awal mula peradaban manusia. Sejak dari nilai-nilai yang primitif, yang masih hidup hingga hari ini ataupun yang telah punah, nilai-nilai yang baru "ditemukan" kemudian, atau nilai-nilai yang muncul seiring kemajuan peradaban itu sendiri, juga nilai-nilai yang merupakan perkembangan atau perubahan dari nilai-nilai yang terdahulu.

Manusia menurunkan nilai-nilai itu dari satu generasi ke generasi yang lainnya baik secara sadar ataupun tidak sadar, melalui berbagai cara dan media, dengan perantaraan berbagai hal, dengan cara yang sederhana ataupun cara yang sangat rumit. Nilai yang paling awal diturunkan kepada satu manusia, kurang lebih, adalah nilai yang menyangkut kehidupan seorang bayi. Kencing dan berak di celana, nangis, dan nakal adalah merupakan suatu "kesalahan", adalah terkategorikan sebagai "buruk".

Semakin tinggi peradaban manusia, juga ketika seorang anak manusia telah mencapai usia matangnya, semakin rumit nilai-nilai yang dibebankan kepadanya. Sepanjang garis peradaban, nilai-nilai selalu berubah sesuai dengan tuntutan zamannya. Ia akan berubah ketika zaman membuat nilai-nilai yang terdahulu tidak mungkin lagi untuk tetap digunakan. Contohnya adalah, dalam nama kemajuan zaman tersebut, demi kepraktisan dan kesetaraan, perbedaan penggunaan bahasa terhadap tingkatan-tingkatan kemasyarakatan tidak lagi digunakan. Pergeseran arti gender dari zaman yang satu ke zaman yang lain, hubungan manusia dengan alam, dan lain-lain.

Maka bagaimanapun juga, nilai-nilai adalah buatan manusia, adalah produk kolektif secara sadar atau tidak sadar dari peradaban manusia, adalah pembatas-pembatas koridor yang "diciptakan" demi kehidupan suatu zaman. Yang mana karena ia bersifat mengabdikan diri kepada zaman, maka nilai-nilai itu pun mengabdikan diri kepada penguasa dari zamannya. Oleh karena itulah kita mengenal suatu nilai yang mengatakan bahwa memberontak dan menumbangkan kekuasaan adalah "buruk" atau setidaknya "tidak lebih baik" daripada hal yang lainnya.

Tetapi selalu akan tiba waktunya ketika suatu zaman tidak dapat lagi menopang dirinya sendiri, suatu pembusukan zaman seperti yang pernah terjadi pada zaman raja-raja dan segala zaman lainnya. Pembusukan itu diikuti juga dengan pembusukan nilai-nilai yang berlaku, sehingga kini kita dapat membaca sejarah tentang pemenggalan kepala Louis XIV dalam nama nilai-nilai yang baru yang telah hidup dari bangkai nilai-nilai lama, di mana raja adalah perwakilan dari tuhan.

Pembusukan nilai yang terpicu oleh pembusukan zaman, bersamaan dengan faktor-faktor lainnya, akan dorong mendorong secara dialektika untuk membuat pembusukan tersebut bagaimanapun juga akan berakhir dengan kematian dari zaman yang lama dan tumbuhnya zaman yang baru. Pembusukan nilai-nilai yang mengikuti pembusukan zaman raja-raja menumbuhkan tunas-tunas nilai-nilai baru, nilai-nilai pemberontakan, yang menghidupkan slogan kemerdekaan-kesetaraan-persaudaraan. Dari sana tunas-tunas segar itu pada akhirnya menjatuhkan Louis XIV dari kursi perwakilannya terhadap tuhan, membuatnya tersungkur menyembah rakyat, dan menjatuhkan pisau guillotine di atas lehernya.

Konsekuensinya adalah akan selalu terjadi tarik-ulur dan bahkan penindasan-penindasan terhadap nilai-nilai baru yang bertumbuh sebagai penanda zaman yang telah membusuk. Tentu saja penguasa tidak menginginkan dirinya bernasib sama seperti Louis.

Kekakuan dan absolutisme zaman raja-raja menghidupkan nilai-nilai parlementer yang membuat rakyat dapat "ikut menentukan" jalannya kehidupan. Tetapi seperti pada zaman manapun, penguasa yang berasal dari kelas yang berbeda akan selalu menjadi penindas dari rakyatnya dalam nama kekekalan kekuasaan tersebut. Nilai-nilai parlementer tinggal menjadi ilusi yang meninabobokan manusia dan membuatnya tenang untuk sementara, memberikannya mekanisme untuk mengubah-ubah penguasa dan menentukan komposisi yang diinginkannya sendiri. Tetapi ilusi tetaplah ilusi karena penguasa yang manapun dengan komposisi yang manapun tetaplah mereka yang berasal dari kaum penguasa, kaum empunya harta dan senjata.

Pembusukan telah dimulai sejak suatu zaman tampil ke muka sebagai zaman yang berjaya. Maka di zaman ini di mana kita hidup, ketika peradaban telah sedemikian rumitnya, dan mekanisme ilusi telah berjalan selama berabad-abad, kini pembusukan itu menjadi semakin kental dan membuat zaman semakin mendekati ajalnya. Manusia semakin menyadari ilusi yang dihadapinya, dan nilai-nilai baru pun bertumbuh.

Bahwa mekanisme parlemen adalah suatu kebohongan, bahwa tidak ada harapan yang dapat diberikan olehnya, bahwa oleh karena itu kekuasaan harus diakhiri justru tidak dengan mengikuti mekanisme yang telah diberikan. Menjadi semakin nyata bahwa pemberontakan adalah legal walaupun jika ia ditentang oleh segala rupa hukum dan undang-undang yang manapun, bahwa bukan saja pergantian penguasa yang harus diakhiri, melainkan zaman ini telah semakin membusuk dan harus diantarkan kepada ajalnya.

Maka biarlah nilai-nilai itu bertumbuh, biarlah mereka mendapatkan jati dirinya melalui rangkaian kata-kata dan menemukan bentuk materialnya pada kepalan tangan dan teriakan-teriakan rakyat.

Karena ajal telah menanti pembusukan ini.

Diktator Proletariat

Demokrasi macam apakah, yang melarang ideologi tertentu untuk hidup? Demokrasi macam apakah, yang mematok kebenaran berdasarkan kepentingan kaum tertentu? Demokrasi macam apakah, yang mengorbankan kehidupan jutaan nyawa demi kenikmatan hidup segelintir orang? Demokrasi macam apakah, yang menodongkan moncong senjata pada yang tidak setuju? Demokrasi macam apakah, yang membangun dirinya dari hasil perampokan terhadap orang lain? Demokrasi macam apakah, yang membunuhi saudara sendiri dalam nama nasionalisme dan persatuan?

Demokrasi macam apakah yang dilahirkan dari pembantaian terhadap ratusan ribu manusia dan pemenjaraan terhadap jutaan yang lainnya??

Demokrasi macam apakah yang tidak mengizinkan adanya pemikiran lain selain yang sejalan dengan yang dimiliki oleh para penguasa dan penjaganya, yang memberangus setiap perbedaan, yang membantai setiap perlawanan, dan mengabdikan dirinya pada profit bagi kaum empunya harta, kuasa, dan senjata??

Demokrasi-mu hanya nama, dan tidak lebih dari itu. Demokrasi-mu adalah omong kosong, adalah bualan maha hina, adalah bangkai yang membusuk dan tak berharga. Demokrasi-mu adalah sebuah kebohongan, demokrasi-mu berarti keharusan mutlak untuk setuju dan sepakat dengan setiap tingkah lakumu. Demokrasi-mu adalah sebuah pilihan antara menjadi kacung dirimu dan segala kepentinganmu atau mati. Demokrasi-mu adalah berarti kepentingan kaum-mu.

Demokrasi-mu hanya bualan belaka!

Sejatinya kau adalah monster-monster yang akan melakukan apapun untuk menjamin kepentinganmu, kau adalah penguasa yang memperkacung dan mempertolol rakyatmu sendiri dalam nama demokrasi. Demokrasi-mu tidak lebih dari fasisme dan kekuasaanmu menyerupai kediktatoran.

Demokrasi-mu adalah omong kosong!

Yang menjadi penopang kebohonganmu tinggal pemilihan yang kau adakan lima tahun sekali. Pemilihan yang sungguh cerdas untuk semakin memperdungu rakyatmu, untuk memberikan mereka fantasi, ilusi, dan imajinasi demokrasi, untuk membuat mereka menjadi goblok.

Pemilihan yang kau adakan adalah hanya perebutan kekuasaan di antara kaum-mu sendiri, hanya tarik ulur kepentingan antara kau yang satu dengan kau yang lainnya. Kemudian siapapun yang menjadi penguasa tetap akan merupakan orang-orang yang sama yang sejak berpuluh tahun lalu menguasai harta dan senjata.

Lantas kau tersenyum karena demokrsi telah dijalankan, karena pesta demokrasi telah sukses berlangsung. Satu jari tangan kiri yang membiru terkena tinta, kotak suara yang penuh, dan omong kosong pemilihan itu kau katakan sebagai demokrasi.

Tai anjing! Kukatakan lagi: Demokrasi-mu adalah omong kosong.

Dan kami tak membutuhkan demokrasi darimu, kami akan menggunakan cara kami sendiri. Makan saja demokrasi-mu, kami akan membangun dunia kami sendiri: Di atas puing-puing dunia-mu yang akan kami hancurkan!

Kemudian jangan sekali-kali kau mengemisi atau mengutuki demokrasi kepada kami, karena kami tidak memilikinya, karena kami tidak menyediakan omong kosong demokrasi seperti yang kau pajang manis di jidat dan pantatmu sekarang. Sedari awal tujuan kami telah jelas, sedari awal kami telah jujur pada diri kami sendiri tentang apa yang akan kami bangun, dan kami tidak munafik akan apa yang kami cita-citakan; diktator proletariat!

Maka tidak ada tempat bagimu.

PEMURTADAN

Sebelumnya kuberitahukan dulu, apa yang akan kau baca adalah sepenuhnya benar-benar merupakan sebuah ajakan untuk membunuh tuhan yang hidup di dalam pikiranmu. Sebuah ajakan untuk menjadi seorang murtad.

Sebenarnya aku tidak suka dengan hal-hal seperti ini, seperti juga rasa tidak sukaku yang meledak-ledak terhadap orang yang mempromosikan tuhannya kepadaku. Tetapi toh mereka melakukan itu, dan mereka tidak pernah ambil pusing tentang rasa muakku. Maka dengan prinsip tidak ambil pusing terhadap rasa marah angkara-murkamu, kubuat juga tulisan ini.

***

Menurutku, apa yang terjadi di dalam kepalamu, menyangkut tentang tuhan, pada dasarnya terdiri dari dua pola utama; sebuah lingkaran setan dan satunya lagi adalah suatu kegoblokan yang stagnan.

Lingkaran setan adalah ketika karena kepercayaanmu pada tuhan, maka kau menjadi takut berpikir, tidak berani melampaui sekat-sekat pembatas yang terbentuk karena keberadaan tuhan di dalam pikiranmu. Pikiranmu terkerangkeng di dalamnya, tidak mampu dan tidak berani keluar dari kerangkeng itu, sehingga dengan ketakutanmu dan keenggananmu untuk berpikir, kau kembalikan lagi segalanya kepada tuhan.

Hasilnya adalah putaran demi putaran yang semakin dungu dari waktu ke waktu. Di mana semakin kau takut untuk berpikir, maka akan semakin parah ketergantunganmu pada tuhan, dan kemudian kau menjadi semakin takut untuk berpikir, dan seterusnya tanpa akhir.

Setiap apapun yang kau hadapi dan kau pikirkan telah dengan sendirinya kau beri dasar tuhan di sana, sehingga apapun tidak akan terlepas darinya, dan setiap jengkal pikiranmu tidak akan pernah dapat dan tidak akan pernah kau biarkan melampaui batas-batas tuhan itu.

Lainnya adalah kegoblokan yang stagnan alias mandek. Kau memiliki tuhan sebagai jawaban atas segalanya, maka dengan mudahnya, didasari oleh ketidakberanianmu untuk berpikir, kau tinggal memunculkan kata 'tuhan' sebagai jawaban untuk segala hal yang kau hadapi.

***

Saranku untuk kau yang masih membiarkan tuhan hidup di dalam pikiranmu, adalah bahwa kau harus dapat membebaskan dirimu dari sang tuhan, karena semakin tuhan berkuasa di alam pikirmu, maka semakin kau tidak memiliki sendiri hidupmu, semakin kau tidak merdeka, semakin kau kehilangan kemanusiaanmu sendiri.

Ya, aku serius, dan aku memang benar-benar menyarankanmu untuk membunuh atau mengusir tuhan yang hidup di dalam kepalamu.

Caranya adalah, kau harus mampu memecahkan lingkaran setan yang membelenggu pikiranmu itu. Itu hal pertama yang perlu kau lakukan. Beranilah berpikir, jangan kembalikan lagi pada tuhan, tetapi biarkan pikiranmu menerobos segala arah, biarkan ia bebas, hentikan putaran-putaran lingkaran setan yang dungu itu.

Berhenti menjadikan tuhan sebagai jawaban untuk segalanya, dan di saat yang sama kau harus sungguh-sungguh berpikir tentang tuhan. Berpikir tentang tuhan dengan cara yang merdeka, yang tidak dibelenggu oleh lingkaran setan kedunguan.

Urai tuhan yang ada di dalam pikiranmu, bongkar, gali, dan bedah namanya dengan tidak takut terhadap apapun juga, dengan tidak takut terhadap dirinya dan pikiranmu sendiri.

Tentu kau akan takut dosa, takut neraka, hukuman, atau sanksi yang akan diberikannya padamu karena hal itu. Atau kau merasa tidak layak untuk melakukan itu, dengan segala rupa alasan yang mungkin sebagian besarnya kau temukan di dalam buku-buku tebal usang bau ompol bernama kitab suci.

Tetapi bagaimanapun pada dasarnya itu hanyalah ketakutanmu belaka, kepengecutanmu untuk menjadi diri sendiri, menghadapi kenyataan, menghadapi tiap risiko; ketakutanmu untuk berpikir.

Karena itu memang sesungguhnyalah tulisan ini mengandung muatan yang bertujuan menantangmu untuk melakukan itu semua; menantangmu untuk berani berpikir merdeka, untuk menjadi seorang murtad.

Aku tak menjanjikan apapun juga jika kau melakukannya, aku tak tau apa yang akan terjadi kemudian. Mungkin kau akan menjadi murtad sejati dengan pikiran yang telah terbebas dari jerat kekuasaan tuhan, atau setidaknya kau akan menemukan tuhan yang lebih manusiawi untuk menggantikan tuhan dengan kekuasaan absolut yang kini tengah menguasai pikiranmu. Mungkin juga kau tinggal tetap menjadi seorang pesakitan yang diperkacung oleh tuhan di dalam pikiranmu sendiri - seperti saat ini - yang kemudian merasa sangat-sangat berdosa dan terkutuk karena pikiran-pikiran liar yang pernah kau biarkan berkembang di dalam pikiranmu.

Sekali lagi aku tak tau yang mana yang akan terjadi.

Tetapi bagaimanapun kau tetap perlu melakukannya. Dalam nama kemerdekaan dan keberanian hidup, dalam nama kepemilikan penuhmu atas pikiranmu sendiri, dalam nama kemanusiaan.

BERHENTILAH MENJADI DUNGU

Aku selalu memandang sinis terhadap orang-orang yang berdemonstrasi menentang penjagalan yang dilakukan Israel di Timur Tengah. Terlebih lagi terhadap orang-orang yang berkata siap untuk melakukan jihad menghantar nyawa ke sana.

Tetapi bukan berarti aku membela Israel. Kukatakan padamu, menurutku penguasa Israel adalah memang sungguh bajingan penjagal manusia. Tetapi alasan yang diberikan oleh sebagian besar para pendmonstrasi itu, bagaimanapun, kuanggap konyol.

Dengan dungu dan bebalnya mereka menentang Israel dan apa yang dilakukannya atas dasar keislaman mereka. Manusia-manusia fanatik yang masih hidup di zaman kegelapan itu meletakkan agama sebagai dasar dari kehidupannya, agama sebagai titik sentral dalam memandang dunia, dan agama sebagai tolok ukurnya terhadap segala sesuatu.

Walaupun sesungguhnya hal yang sangat goblok itu wajar adanya bagi mereka yang memang dungu sekaligus bebal. Karena bukan hanya dalam masalah Israel, tetapi dalam segala hal mereka memang memiliki pandangan yang sangat sempit terhadap dunia dan kehidupan. Karena kacamata agama yang dikenakannya, karena kerangkeng agama yang membuat pikiran mereka menjadi kerdil. Dalam lain kata, agama telah membuat mereka goblok. Dan dengan demikian, tindakan mereka pun akan menjadi goblok.

Agama bukanlah sesuatu yang universal, dan agama pun akan berbeda-beda dari manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Maka ketika agama yang digunakan untuk menilai dan dijadikan dasar, hasilnya adalah suatu kekacau-balauan. Suatu kekacau-balauan yang tampak sangat dungu.

Jika seseorang membela orang-orang dengan agama yang sama dengannya di Timur Tengah (dalam hal ini Islam), yang saat ini tengah dibantai oleh Israel, dan ia pergi berjihad ke sana untuk membantai balik orang Israel yang kafir itu; maka seharusnya suatu waktu dapat-dapat saja terjadi seorang Kristen membantai dirinya karena orang itu beragama Kristen, sama dengan agama yang pada umumnya dianut oleh orang Papua - yang mana telah dibantai oleh orang-orang Islam yang menguasai negara ini.

Sedangkan ada pula orang Israel yang menentang pembantaian yang dilakukan oleh penguasa negaranya. Beberapa hari lalu kulihat di TV, Partai Komunis Israel, lengkap dengan atribut berwarna merah dan lambang palu arit berwarna kuning, berdemonstrasi menentang perang. Entah apa yang berkecamuk di kepalamu ketika dua setan-iblis yang begitu kau benci, Israel dan Komunis, tiba-tiba berpendapat sama denganmu.

Sungguh akan menjadi amburadul jadinya.

Membela orang-orang yang beragama sama pada suatu waktu, sementara di lain waktu TKW dari Indonesia pulang dalam keadaan bunting atau bahkan tinggal mayat karena diperkosa oleh orang Arab yang ternyata juga beragama sama. Maka mereka akan tinggal diam, menutup mulutnya erat-erat, dan kalau perlu jangan sampai ada banyak yang tau soal ini. Toh agama mereka yang memperkosa dan membunuh, sama dengan agama kita.

Jika, seandainya saja, Israel adalah suatu negara muslim, dan sementara Lebanon adalah negara yang berisi kaum Zionis Yahudi yang kau benci, maka apakah - ketika menyaksikan pembantaian seperti yang sekarang terjadi - kau akan tetap berkoar-koar seperti sekarang - atau kah kau akan tutup mulut dan sekaligus berteriak "Allahuakbar!" di dalam hati??

Bagaimanapun juga, akan menjadi konyol sekaligus tolol jika agama yang dijadikan dasar penilaian. Dan hal itu sungguh sama sekali tidak lebih baik daripada orang fasis yang meletakkan ras sebagai dasar untuk menilai dan memandang dunia. Agama dalam hal ini dapat menjadi dan mungkin tengah menjadi fasis-fasis model baru, yang semakin lama semakin tidak perduli lagi terhadap hal yang lainnya, dan hanya meletakkan agama sebagai pemersatu atau pembeda dalam memandang dunia dan kehidupan.

Dan apapun yang menjadi bahan bacotan para ahli-ahli agama, fasis adalah tetap fasis, walaupun dasarnya adalah agama.

Apa yang dapat kutawarkan sebagai alternatif adalah menggunakan kemanusiaan untuk menggantikan agama. Kemanusiaan akan selalu sama, baik di Arab sana, di Israel, di Papua, di Jakarta, di negara-negara bule, di Afrika, di manapun manusia adalah manusia. Apapun rasnya, apapun agamanya, kebudayaannya, penampilan fisiknya, kepercayaannya, manusia adalah manusia. Walaupun kemanusiaan belum dapat sepenuhnya ditegakkan akibat dari sistem saat ini yang meletakkan kemanusiaan berada entah di nomor urut keberapa, tetapi kita tetap dapat melihat dunia menggunakan kemanusiaan. Dan aku dapat menjamin bahwa kau tidak akan lagi tampak begitu dungu seperti ketika kau menggunakan agama.

Apapun agama seseorang, apapun kepercayaan dan rasnya, pembantaian seperti yang dilakukan oleh Israel saat ini tidak dapat dibenarkan. Dan hanya dibutuhkan kemanusiaan untuk sampai pada kesimpulan itu, kau tidak perlu membawa-bawa agamamu, rasmu, kebudayaanmu, segala tetek-bengek dari dirimu. Hanya kemanusiaanmu. Hal-hal lainnya akan membuatmu justru tampak kerdil, biadab, sekaligus dungu. Dungu sedungu-dungunya.

***

Hal lainnya adalah, walaupun memang tidak seharusnya berdiam diri saja ketika melihat pembantaian manusia atas manusia yang dilakukan oleh Israel, walaupun memang sewajarnya terjadi aksi-aksi demonstrasi menentang tindakan Israel seperti yang dilakukan oleh seluruh dunia (walaupun juga akan menjadi benar dan tampak lebih rasional serta cerdas juga tidak dungu - jika tidak dilakukan atas dasar agama); ada sesuatu yang terlewatkan oleh orang-orang Indonesia.

Kita mengutuki setiap apapun yang dilakukan oleh Israel, lebih tepatnya adalah kita mengutuki Israel dan hal-hal yang berbau Yahudi di manapun dan kapanpun kesempatan untuk itu ada, seseorang menggunakan kalung berliontin lambang bintang david pun menjadi perkara, apapun yang berbau Israel dan Yahudi dapat dalam sekejap menjadi sumber permasalahan di sini.

Segala yang berbau Israel dan Yahudi serta Zionis menjadi haram, hina, menjijikan, salah, najis, dan segala yang buruk bagimu. Hampir sama seperti ketika Komunisme begitu setan-iblis bagimu. Sementara kau tidak pernah tau dan mau tau apa perbedaan dari Israel, Yahudi, dan Zionisme itu sendiri.

Tetapi, kembali ke apa yang sebelumnya hendak kukatakan, ada yang terlewatkan oleh orang-orang Indonesia. Kita lupa mengutuki kebiadaban yang kita lakukan sendiri. Sementara kita begitu berkonsentrasi dan begitu bernafsu untuk menyerahkan nyawa dalam perang Jihad melawan setan-setan Israel, kita telah melupakan bahwa penguasa negara kita sendiri pun selama berpuluh tahun hingga hari ini tengah memperanjing dan disertai berkali-kali pembantaian terhadap bangsa Papua.

Kita sendiripun adalah bangsa biadab yang membiarkan atau bahkan mendukung perampokan dan pembantaian yang dilakukan oleh negeri ini bersama para tentaranya, dan terutama dilakukan untuk melanggengkan perampokan yang dilakukan oleh Freeport.

***

Satu hal yang menjadi kekhawatiranku adalah, kau akan sekali lagi terjerumus dalam lautan kebebalan dan kedunguan, ketika kau mengatakan bahwa Freeport pun Yahudi, dan oleh karena itu mereka bertindak bajingan, dan sepantasnyalah Yahudi Freeport itu dikutuki. Jika kau berpikiran seperti itu, maka jadilah dirimu tampak dungu dan bebal.

Maka aku bertanya kepadamu yang berpikiran seperti itu, siapakah orang-orang penguasa negeri ini yang membiarkan Freeport merampoki Papua hingga hari ini, bukankah orang-orang yang memiliki agama yang sama denganmu, bukankah mereka juga pergi ke Mekkah sana untuk mencantumkan label "haji" di depan namanya? Tetapi mereka dapat saja bertingkah anjing dan keparat. Persis sama seperti keanjingan dan kekeparatan yang dapat dilakukan oleh Israel.

Dengan demikian kau akan berputar-putar dalam lingkaran penuh kedunguan, bolak-balik mengurusi Yahudi dan Israel dan Zionisme, meletakkan agama sebagai titik poros kebebalanmu, berproses menjadi fasis-fasis bangsat sejati, serta sama sekali tidak sanggup dan mau untuk melihat kenyataan dan kebenaran. Bahwa ini bukanlah tentang apa agama dia dan apa agamamu. Ini adalah tentang kemanusiaan, bahwa baik orang Papua atau Lebanon, orang Amerika atau Israel, dan apapun agamanya, adalah tetap manusia. Titik.

Beranikan dirimu. Berhentilah menjadi DUNGU!