Sabtu, 30 Januari 2010

Rakyat Melarat, Kerempeng, dan Tertindas

Kemaren saya pergi ke rumah temen yang ulang taun. Lantas di sana saya dipinjemnin 2 biji majalah mahasiswa sama temen saya. Salah satu majalah itu, cover depannya gambar orang-orang yang lagi bikin semacem drama tentang melaratnya rakyat yang suka dilakukan mahasiswa kalo lagi demonstrasi. Gambar orang-orang dengan badan yang diputihin entah pake apa yang nyeret-nyeret badan kerempeng di atas aspal jalan raya, ceritanya menggambarkan rakyat yang melarat.

Saya pribadi tidak suka dengan drama-drama semacam itu, dalam arti drama-drama yang selalu menggambarkan rakyat sebagai sesuatu yang ditindas, yang melarat, yang kerempeng kurus kerontang. Apakah akan ada gunanya kita kasih tau ke seluruh penjuru Indonesia kalo rakyat = pihak yang ditindas dan melarat dan menderita? Saya rasa tidak akan ada.

Kita ini berjuang, berjuang untuk hidup, berjuang untuk mendapatkan hak, dan berjuang untuk mengganjel perut. Lantas kenapa kita selalu menggambarkan diri kita - rakyat - sebagai pihak yang ditindas? Memang rakyat jelata miskin Indonesia adalah pihak yang selalu diinjek-injek sama si pemerintah bajingan, tapi yang harus ditunjukkan bukan betapa melaratnya kita, bukan betapa kerempengnya kita, bukan betapa miskinnya kita.

Karena kita berjuang, dan karena rakyat adalah tuhan. Maka saya pribadi berpikir yang harus kita tunjukkan justru adalah kekuatan kita, bahwa rakyat adalah tuhan, dan bahwa negara ini adalah milik rakyat, bukan milik pemerintah bajingan. Karena sampai matipun kita mengeluh betapa melarat, tertindas, dan kerempengnya rakyat Indonesia, tidak akan menghasilkan apa-apa; sampai matipun kita meratapi kemelaratan dan ketertindasan kita, tidak akan ada gunanya kalau kita tidak berjuang dan bangkit.

Rakyat adalah pemilik dari tanah Indonesia, rakyat adalah tuan dari tanah Indonesia, rakyat adalah tuhan.

Related Posts :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar