Sabtu, 30 Januari 2010

Manusia Hipokrit Yang Takut Berpikir

Saat ini, sewaktu saya menulis tulisan ini, di kota saya pukul 4:10 pagi, saya sendirian di depan komputer saya. Ditemani lagu dari Meat Loaf yang saya ngga tau apa judulnya. Dengan suara-suara pagi yang indah. Satu hari lagi hampir dimulai, satu hari penuh perjuangan, satu hari lagi hidup ini akan bertambah panjang. Sedang apakah anda pada saat pagi hari ini, 30 Agustus 2001?

***

Pernah anda dengar di pelajaran PPKn bahwa kebudayaan asing yang hendak masuk ke Indonesia harus kita seleksi terleih dahulu, yang manakah yang cocok dengan kepribadian bangsa, dan yang manakah yang tidak cocok? Sehingga kita dapat mengambil kebudayaan asing yang dapat memperkaya budaya nasional kita. Dan budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, harus kita hindari, jangan sampai mempengaruhi budaya nasional kita.

Bagaimana kedengarannya bagi anda? Untuk saya, hal itu terdengar munafik. Apakah budaya nasional kita sudah sedemikian bagusnya hingga hanya budaya asing yang harus diseleksi? Saya pikir, tidak hanya budaya asing yang harus diseleksi, tetapi juga budaya nasional kita, bahkan harus diseleksi dengan lebih ketat lagi. Buang saja budaya-budaya nasional yang bodoh dan tidak berguna.

Walaupun itu budaya asli kita, bukankah tujuannya adalah memperbaikinya? Kalau memang mau memperbaikinya, jangan hanya dapat menyeleksi yang berasal dari luar, tapi juga harus memilah-milah apa yang sudah kita miliki. Buang budaya hipokrit masyarakat Indonesia, buang budaya sopan gila-gilaan, buang budaya kampungan, dan lain-lain.

Kalau kita mau memajukan apa yang dikatakan sebagai budaya nasional, kita harus berani dan mampu membuang apa yang kita tidak butuhkan. Kalau tidak, semuanya akan tercampur aduk menjadi satu dan menjadi budaya omong kosong belaka. Barulah kita mulai menyeleksi budaya asing yang masuk ke Indonesia.

Tapi tidak berdasarkan kecocokannya dengan kepribadian bangsa. Bahkan kepribadian bangsa harus dibuang jika budaya itu adalah jelek. Seleksi kebudayaan asing berdasarkan nalar dan logika kita, apakah budaya ini baik ataukah jelek. Biarpun berbeda dengan kepribadian bangsa, kalau memang budaya asing itu baik dan patut ditiru, mengapa tidak ditiru? Apakah memang kepribadian bangsa kita itu sudah begitu sempurnanya hingga semuanya harus sesuai dengannya? Ah munafik.

***

Masalahnya, orang Indonesia pada umumnya tidak pernah dapat mandiri menjadi dirinya sendiri. Tiap apa yang dipikirkan dan dilakukan selalu saja dikait-kaitkan dengan masalah agama dan budaya. Maka tiap pikiran dan perbuatan orang itu menjadi terkungkung dalam lingkup agama dan budaya. Tidak ada usaha untuk berpikir lebih, berpikir bebas, berpikir sebagai dirinya sendiri yang punya otak di dalam kepalanya. Hasilnya, manusia-manusia hipokrit yang takut untuk berpikir, yang takut untuk mempergunakan kepalanya sendiri, yang berpikir tidak dengan kepala - tapi dengan kitab suci, yang mempunyai pikiran hasil cetakan orang tua dan nenek moyang. Bodoh.

Bagaimana dengan saya, bagaimana dengan anda?

Related Posts :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar